Sejak kecil, Dido selalu membawa buku-buku tentang astronomi yang ia pinjam dari perpustakaan desa. Ia belajar tentang planet-planet dalam tata surya, bintang-bintang, hingga galaksi yang paling jauh dari bumi. Keinginan untuk mengeksplorasi alam semesta terus membakar dalam dirinya, dan ia bermimpi suatu hari bisa terbang ke luar angkasa. Ketika Dido masuk bangku sekolah, ia mulai belajar matematika dan fisika dengan tekun. Guru-guru terpesona oleh ketertarikannya pada astronomi dan mereka mendukung mimpinya. Ia menghabiskan berjam-jam di perpustakaan sekolah untuk belajar menggapai mimpinya.
Setelah menyelesaikan sekolah, Dido berhasil mendapatkan beasiswa untuk kuliah di salah satu universitas terkemuka di Indonesia yang hanya satu-satunya memiliki jurusan di bidang astronomi. Di sana, ia belajar dengan penuh semangat, memahami lebih dalam tentang astrofisika, kosmologi, dan hal yang berhubungan dengan astronomi. Selama kuliah, Dido mendapat kesempatan untuk bekerja di observatorium profesional. Ia menghabiskan berbulan-bulan di desa yang terpencil, mengamati langit malam tanpa gangguan cahaya kota. Pengalamannya di sana mengasah kemampuannya dalam analisis data dan pengamatan astronomi.
Setelah lulus dengan gelar sarjana astronomi, Dido mendaftar ke program pascasarjana di universitas terkemuka di luar negeri. Universitas tersebut dibawahi langsung oleh perusahaan Asderive Corp yang dimana merupakan badan independen yang bertanggung jawab atas penelitian luar angkasa, di sinilah ia benar-benar bisa mengasah kemampuan penelitiannya. Ia mulai terlibat dalam proyek-proyek penelitian penting, seperti mencari planet-planet di luar tata surya dan memahami lebih dalam tentang sifat-sifat alam semesta.
Selama menjalankan studi pascasarjana, Dido dikenal sebagai mahasiswa termuda di bidang astronomi dan dijuluki sebagai magnet profesor. Hampir semua profesor yang mengajarnya senang dengan kehadirannya karena semangatnya untuk menjadi profesional astronom dan rasa ingin tahunya tentang langit. Ia juga disukai oleh Profesor Mikolas, sehingga sering diikutsertakan dalam berbagai proyek penelitian.
Meskipun sibuk mencapai mimpinya, Dido tidak pernah melupakan rumahnya. Setiap bulan, ia menyisihkan waktu untuk pulang ke Indonesia dan bertemu kedua orang tuanya. Meski singkat, waktu bersama keluarganya selalu dimanfaatkannya dengan baik dan sesekali untuk mengenang masa kecilnya. Memang belum bisa di katakan cukup “berhasil” untuk menggapai mimpinya, namun kedua orang tua Dido sudah sangat bangga dengan perjuangan Dido selama ini.